Jateng Ekstrem Tanpa Hujan: Kisah Kemarau Panjang di Wilayah Banyumas

Berita225 Dilihat

Saat musim berganti dan langit cerah terlihat di sebagian besar Jawa Tengah, masyarakat di wilayah Banyumas harus menghadapi tantangan yang luar biasa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi adanya wilayah di Jawa Tengah yang mengalami kekeringan ekstrem selama 60 hari atau dua bulan penuh.

Menurut hasil pemantauan BMKG, curah hujan di Jawa Tengah kemungkinan akan rendah pada Juli 2023. Dalam analisis curah hujan dasarian II Juli 2023, BMKG menyatakan bahwa mayoritas wilayah Jateng akan mengalami curah hujan rendah, yaitu sekitar 0 hingga 10 mm per dasarian.

Hasil pemantauan BMKG pada Hari Tanpa Hujan Dasarian II Juli 2023 menunjukkan bahwa kriteria hujan pendek, dengan durasi 6-10 hari berturut-turut tanpa hujan, terjadi di wilayah barat Jateng. Secara spesifik, wilayah Banyumasan dan Kedu (termasuk Cilacap, Banyumas, Kebumen, Purworejo, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, dan Magelang) mengalami curah hujan sangat rendah, yaitu hanya 1 hingga 5 hari tanpa hujan.

Baca juga:
Lahan Penduduk di Banyumas Hilang Tergerus Erosi Akibat Eksploitasi Pasir

Situasi serupa juga terjadi di wilayah Jateng bagian timur, seperti Wilayah Muria yang mencakup Kudus, Pati, Jepara, dan Rembang, dengan mayoritas mengalami kriteria menengah, yaitu 11 hingga 20 hari tanpa hujan. Sementara itu, di beberapa wilayah seperti Blora, Grobogan, Boyolali, Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, Wonogiri, Klaten, Salatiga, Pemalang utara, dan Pekalongan utara, terjadi hujan dengan durasi lebih panjang, mulai dari 21 hingga 30 hari bahkan sangat panjang, mencapai 31 hingga 60 hari tanpa hujan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *